Twitter Facebook Google Plus LinkedIn LinkedIn Google Plus LinkedIn LinkedIn LinkedIn Email Email Email
Tampilkan postingan dengan label Kabar Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Daerah. Tampilkan semua postingan

KM Utama Tunjuk 12 SMK di NTB Pilot Projek Teknologi Energi Terbarukan

MATARAM – Kebutuhan listrik untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 5 persen per tahun tiga tahun terahir di luar sektor pertambangan.

Berdasarkan data statistik PT PLN, rasio elektrifikasi Provinsi NTB meningkat 63,4 persen pada tahun 2013 menjadi 65,65 persen pada tahun 2014. Angka tersebut masih lebih rendah dari rata-rata rasio elektrifikasi luar Jawa sebesar 71 persen dan rata rata nasional sebesar 78 persen.

Melihat kondisi tersebut, KM Utama Indonesia yang merupakan lembaga kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat meluncurkan proyek Pelatihan dan Sertifikasi Profesi Teknologi  Energi Terbarukan (PEKA SINERGI) dengan menunjuk 12 SMK Negeri di Pulau Lombok sebagai pilot projek untuk di Indonesia.

Peluncuran proyek PEKA SINERGI yang dilaksanakan di Universitas Mataram, Kamis (12/11) tersebut dihadiri oleh unsur pimpinan dari KM Utama, Mae Chu Chang, Kepala Dinas Dikpora NTB, H. Rosiady Sayuti, Wakil Rektor IV Unram, Prof. H. Suardji, Rektor Unram Prof. H. SUnarpi dan perwakilan dari Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud RI, Rizal Sani.

Rizal Sani mengatakan, proyek PEKA SINERGI atau pelatihan dan sertifikasi profesi teknologi energy terbarukan diluncurkan untuk menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja ahli bidang teknologi energy terbarukan (TET) tersebut. Dengan memberi pelatihan kepada guru guru di 12 SMK, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas warga Lombok, khususnya siswa SMK  dan tenaga professional terkait, agar dapat terjun di sektor TET yang sedang berkembang.

Peka SInergi merupakan proyek yang mendapatkan dana hibah dari Millenium Challenge Acount Indonesia (MCA-Indonesia) dan merupakan bagian dari hibah proyek persemakmuran hijau MCA-Indonesia.

Rizal mengatakan, tujuan utama  Peka Sinergi adalah mempromosikan target nasional Indonesia dalam peralihannya dari bahan bakar fosil ke energy batu dan terbarukan serta mempromosikan upaya pengembangan TET di Lombok.

Proyek Peka SInergi ini merupakan konsorsium dari tiga lembaga, yaitu Universitas Mataram, Pusat Pengembangandan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (p4TK BMT) Bandung dan KM Utama Indonesia.

Sementara itu diantara 12 SMK Negeri di Pulau Lombok yang menjadi pilot projek program Peka Sinergi selama 28 bulan ini adalah untuk Kabupaten Lombok Utara, SMK Al Bayan NW dan SMK Negeri 1 Tanjung untuk Energi Terbarukan Biomassa dan SMK Negeri 1 Bayan untuk TE Surya dan Angin .

Di Lombok Tengah adalah SMKN Negeri 2 Praya Tengah untuk TE Surya Angin, SMKN 1 Batukliang Utara untuk TE Biomassa dan SMKN 1 Kopang untuk TE Surya Angin. Selanjutnya di Lombok Timur ada dua SMK yaitu SMKN 1 Sakra dan SMKN 1 Pringgabaya untuk TE Surya dan Angin.

Kemudian untuk Kabupaten Lombok Barat ada tiga SMK yakni SMKN 1 Lingsar dan SMKN 2 Kuripan untuk TE Hidro dan SMKN 1 Kuripan untuk TE Biomassa. Sementara untuk di Kota Mataram hanya satu SMK yakni SMKN 3 Mataram untuk TE Surya dan Angin.

“Jumlah guru yang kita latih sebanyak 48 orang selama 28 bulan,” ujarnya.[bisnisntb.com*]

Guru Produktif SMK Pertanian dan Kelautan Minim Perhatian

(Guru Produktif SMK Pertanian dan Kelautan Minim Perhatian)
MATARAM – Puluhan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri dan swasta yang memiliki program keahlian pertanian, perikanan dan peternakan di Provinsi NTB mengeluhkan tidak adanya perhatian dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) kabupaten/kota dan Dikpora Provinsi NTB.

Masih minimnya perhatian oleh Dikpora kabupaten/kota berdampak terhadap kualitas serta mutu pendidikan di SMK pertanian dan kealutan yang rendah. Hal tersebut disebabkan, SDM dari tenaga guru mereka tidak pernah di upgrade melalui pendidikan dan pelatihan.

Pasalnya, selama ini guru-guru produktif yang mengajar di jurusan pertanian, perikanan dan peternakan tidak pernah tersentuh oleh Dinas Dikpora kabupaten/kota dalam memberikan pelatihan sebagai salah satu hal penting untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi para guru di SMK pertanian, perikanan dan peternakan.

Hal tersebut mengemuka saat rapat koordinasi (Rakor) SMK Pertanian dan Kelautan se Pulau Lombok yang di inisiasi oleh SMKPP Negeri Mataram, Selasa (29/9).

Minimnya pelatihan yang diberikan kepda guru-guru produktif yang membuka jurusan pertanian, perikanan dan peternakan, berimbas pada kualitas serta mutu anak didik yang diluluskan oleh SMK tersebut.

“Minimnya pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh guru-guru ini berdampak terhadap mutu pendidikan yang dihasilkan,” kata Kepala SMKPP Negeri Mataram, Drs. H. Lalu Basri, M.Pd.

Menurut Basri, keberadaan SMKPP Negeri Mataram sebagai sekolah rujukan untuk SMK sejenis di NTB sangat strategis dalam memberikan pendampingan kepada belasan SMK negeri dan swasta yang ada di Provinsi NTB khususnya di Pulau Lombok.

Guru-guru di SMKPP Negeri Mataram karena bernaung di bawah Kementan langsung, makanya pelatihan dan pendidikan bagi guru sangat banyak. Bahkan guru di SMKPP banyak yang menjadi tutor nasional karena rutin mendapatkan pelatihan.

Berbeda jauh kondisinya dengan guru-guru produktif yang SMK bernaung langsung di bawah Dinas Dikpora kabupaten/kota, dimana perhatian terhadap guru SMK pertanian dan kelautan sangat minim.

Basri mengatakan, dengan adanya pertemuan bersama SMK pertanian dan kelautan yang ada di Pulau Lombok ini nantinya akan ada pelatihan secara berkala untuk memperkaya pengetahuan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) guru-guru tersebut. Sehingga hal tersebut berdampak terhadap kualitas pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang bermutu juga di SMK tersebut.

Pada pertemuan tersebut disepakati untuk membentuk asosiasi SMK yang memiliki program keahlian pertanian dan perikanan. Sehingga nantinya, para guru-guru tersebut bisa dilibatkan dalam pelatihan dan pendidikan yang di adakan oleh Badan koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Provinsi NTB.

“Kami akan ususlkan kepada Kepala Sekretariat Bakorluh NTB dan BPSDM Kementan RI agar guru guru produktif di SMK pertanian dan kelautan bisa dilibatkan dalam pelatihan. Karena SDM guru –guru disana sangat perlu untuk di upgrade,” pungkasnya.[bisnisntb.com*]

Penerima Program Indonesia Pintar di NTB 42.592 Siswa

(Penerima Program Indonesia Pintar di NTB 42.592 Siswa)
MATARAM – Sebanyak 42.592 siswa Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun anggaran 2015 mendapatkan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Bantuan pendidikan dari PIP sudah dicairkan langsung ke rekening siswa,” kata Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, Hj. Uumayah di Mataram, Selasa (29/9).

Uum menyebut, masih banyak siswa SMA dan SMK baik negeri dan swasta yang belum mendapatkan dana bantuan dari program PIP. Oleh karena itu, kabupaten/kota segera mengajukan nama –nama siswa sebagai penerima PIP. Karena, secara nasional masih kuota untuk tambahan siswa sebanyak 500 ribu orang.

“Sekolah yang masih ada siswa miskin belum mendapatkan PIP, supaya segera di ajukan melalui dinas kabupaten/kota dan Dapodikmen Kemendikbud secara online,” kata Uum.

Kabupaten yang paling banyak menerima bantuan PIP adalah Kabupaten Bima sebanyak 11.444 siswa, Kabupaten Lombok Tengah 7.547 siswa, Lombok Timur 6.475 siswa, Sumbawa 4.388 siswa, Dompu 3.753 siswa, Lombok Barat 3.033 siswa, Kota Bima 2.038 siswa, Lombok Utara 2.000 siswa, Sumbawa Barat 1.053 siswa dan Kota Mataram 673 siswa.

“Jumlah penerima dana bantuan PIP ini sesuai dengan data yang ada di Dapodikmen Kemendikbud RI. Penyaluran bantuan juga langsung oleh Kemendikbud ke rekening siswa,” jelas Uum.

Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan realisasi dari janji kampanye dari Presiden Jokowi Dodo untuk membantu masyarakat miskin agar bisa mengenyam pendidikan secara gratis untuk semua jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA sederajat.

Program PIP ini tidak jauh beda dengan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang digulirkan sebelumnya oleh Presiden SBY, melainkan hanya berganti nama. Selain itu, nominal uang yang diterima oleh siswa sebesar Rp1.000.000 /orang/tahun yang dialokasikan untuk membeli kebutuhan sekolah termasuk biaya transportasi siswa menuju sekolah.[bisnisntb.com*]

PGRI NTB Ingatkan Guru Tak Kuliah di UT

(H.M.Ali H.A.Arahim)
MATARAM – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, H. Ali Rahim mengingatkan guru-guru yang ada di Provinsi NTB untuk tidak kuliah meningkatkan kualifikasi pendidikan menjadi starata satu (S1) di Universitas Terbuka.

Terlebih lagi bagi guru yang sudah lulus sertifikasi. “Guru yang ada di NTB jangan kuliah untuk mengejar linier di UT, apalagi itu guru yang sudah lulus sertifikasi,” kata Ali Rahim di Mataram, Senin (5/10). 

Peringatan tersebut disampaikan Ali Rahim setelah adanya oknum pengawas pendidikan di wilayah Lombok Tengah bagi barat daya yang diduga mengarahkan guru di wilayah kerja setempat untuk melanjutkan pendidikan S1 linier sebagai syarat agar tunjangan sertifikasinya dibayarkan.

Menurut Ali Rahim, guru-guru yang ada di NTB untuk tidak mengikuti arahan dari oknum pengawas tersebut, karena bagi guru yang sudah lulus sertifikasi tidak ada keharusan untuk kembali kuliah S1 linier sesuai dengan mata pelajaran yang di pegang di sekolah tempatnya mengajar.

Karena saat mengikuti program sertifikasi, guru-guru tersebut sudah dinyatakan linier dan lulus melalui proses porto folio dan juga melalui proses Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). “Saat mengikuti proses sertifikasi, guru-guru kami ini sudah dinyatakan linier sesuai dengan mata pelajaran yang ajarkan di sekolah. 

Jadi sangat tidak benar kalau guru yang sudah lulus sertifikasi itu diharuskan kuliah S1 untuk program linier,” jelas Ali Rahim.

Oleh karena itu, Ali kembali mengimbau kepada guru-guru utamanya yang sudah lulus program serifikasi untuk tidak mengikuti ajakan dari oknum-onknum pengawas yang mengarahkan untuk kuliah di UT dalam rangka meningatkan kualiafikasi pendidikan terkait program linier. “Intinya guru yang sudah lulus sertifikasi tidak perlu lagi kuliah ataupun mengikuti program linier S1,” pungkasnya. [bisnisntb.com*]

Wagub: Saya Tidak Peduli Ranking IPM NTB

[Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Amin]
Mataram - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Amin mengatakan tidak terlalu peduli dengan ranking indeks pembangunan manusia atau IPM daerahnya yang berada pada posisi terendah kedua dari 34 provinsi di Indonesia.

"Tidak terlalu peduli, yang penting tetap ikhtiar, saya tidak terlalu memikirkan," katanya ketika memberikan pengarahan pada rapat pimpinan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nusa Tenggara Barat (NTB) di Mataram, Sabtu.

Ia mengatakan pihaknya ingin menyatukan data indikator pembentuk IPM untuk mempermudah penanggulangan.

"Selama ini data dari ahli ekonomi beda, dari lembaga swadaya masyarakat beda dan dari Badan Pusat Statistik (BPS) beda. Dalam waktu dekat kami akan melakukan rapat validasi data" ujarnya. Amin menambahkan Pemerintah Provinsi NTB mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah pusat, baik di bidang kesehatan maupun bidang pendidikan, namun faktanya IPM NTB tidak mengalami peningkatan.

"Tapi kami akan tetap berjuang, masih rendahnya IPM tetap menjadi bahan evaluasi," katanya.

BPS NTB merilis IPM NTB pada 2013 sebesar 67,73, berada di bawah IPM nasional sebesar 73,81. Penyebab masih rendahnya IPM NTB karena masih lemah di sektor kesehatan dan pendidikan masyarakat, sedangkan indikator ekonomi dinilai sudah relatif bagus. Posisi IPM NTB saat ini berada di rangking 33 dari 34 provinsi di Indonesia, atau di atas Provinsi Papua yang berada di urutan paling rendah di Indonesia, namun NTB berada di bawah Provinsi Papua Barat.

NTB masih kalah dengan Papua Barat dari segi dimensi kesehatan. Sektor ini masih perlu mendapat perhatian karena masyarakat NTB masih ada yang buang air besar sembarangan. Sementara dari sisi rumah sehat, NTB sudah hampir sama dengan Provinsi Papua Barat. NTB hanya unggul dari sisi pemanfaatan sarana kesehatan dan peran serta rumah tangga terhadap sanitasi lingkungan dibanding dengan Provinsi Papua Barat.

BPS NTB juga menyebut secara absolut, jumlah tenaga medis, perawat dan bidan di daerah ini relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain, tetapi rasio tenaga kesehatan (per 100.000 jiwa) justru lebih rendah.

Artinya NTB masih kekurangan tenaga kesehatan. Sementara dari dimensi pendidikan, persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang belum pernah sekolah relatif tinggi, sehingga menyumbang angka masyarakat buta huruf. Demikian juga dengan angka "drop out" atau putus sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas masih relatif tinggi, terutama pada jenjang sekolah dasar. (antara ntb)

NTB Kiblat Matematika di Indonesia

[Ilustrasi]
ELPSA merupakan salah satu program yang didesain dengan baik oleh prof. Tom bersama team ELPSA Australia, karna ELPSA itu sendiri merupakan tehnik yang penerapannya berdasarkan experience, language, picture, symbol dan juga aplikasi.
ELPSA merupakan jurus-jurus umum dalam pembelajaram Matematika, yang diperlukan bagaimana penataan menjadi urutan pembelajaran atau langkah-langkah yang fleksibel atau tidak kaku, dimulai dengan pengalaman-pengalaman siswa sampai dengan tahapan dimana siswa bisa mengaplikasikannya dan juga ditengah-tengah penerapannya kreatifitas guru sangatlah diperlukan.
Jadi, selama guru itu memahami paradigma atau pendekatan tersebut dan benar-benar berlatih dan mempraktikkan setapak demi setapak diyakini bias membuat suatu hal yang baru di Mataram pada hususnya bahkan juga di Indonesia, dan diprediksikan jikalau program ini berhasil, NTB bisa menjadi kiblat pendidikan Matematika di Indonesia selama hal tersebut dipelihara.
Selama ini ada banyak sekali pendekatan yang sudah diterapkan tapi karena tidak dipelihara, tidak ada pelatihan berlanjut, dan tidak dilestarikan. Usaha pelestarian harusnya terus menerus dilakukan oleh semua pihak untuk terlibat dalam meningkatkan program-program yang seperti ini yang diawalnya memang ada kelemahan, tapi selama semua pihak bergandeng tangan untuk mengembangkannya diyakinkan untuk bidang Matematika, urutan-urutan ELPSA ini akan sangat baik.
Adapun langkah kongkrit untuk pengembangan ELPSA salah satunya adalah: pertama, Sosialisasi (untuk sementara sedang dilakukan melalui acara pelatihan ini) yang merupakan langkah yang pertama dan utama, kedua,Perangkat-perangkat pembelajaran (sedang dalam proses pembuatan) yang dimulai dari pembuatan Rencana pembelajaran (RPP), dan ketiga pemodelan dalam kelas atau para guru yang menghadiri acara tersebut mempraktekkan apa yang didapatkan dari pelatihan tersebut.
Disana akan dilihat tingkat kesulitan penerapan, dan tingkat kekurangan ditahapan inilah akan dibenahi semua kesulitan dan kekurangan atau kelemahanya. hal ini merupakan satu langkah dimana para guru yang menghadiri pelatihan tersebut mempraktikkan langsung apa yang telah didapatkan dari pelatihan tersebut.
Dalam pelatihan ELPSA ini ada 40 orang guru yang hadir dan telah mempraktikkan penerapan ELPSA inilah yang nantinya menjadi ujung tombak dan yang akan berbagi dengan guru-guru yang lainnya.
Pemodelan dalam kelas ini biasa diistilahkan dengan sebutan Micro Teaching (praktik mengajar yang seolah-olah ada didalam kelas namun yang jadi siswa adalah rekan-rekan mereka yang mengikuti pelatihan tersebut) disanalah akan ada refleksi dan evaluasi yang pada akhirnya kalau sudah mantap kemudian beralih ke proses Real Teaching (menerapkannya didalam kelas yang sesungguhnya) real teaching ini dilakukan setelah mereka mahir dalam pelatihan yang sedang mereka jalankan.
Tapi, tidak menutup kemungkinan walaupun tahapan micro teaching ini belum dilaksanakan, tapi ada peserta yang ingin mempraktikkan langsung itu tidak apa-apa.
sumber: elpsa.ikipmataram.ac.id

Panggilan Peserta Pelatihan Guru Matematika Tahun 2015, NTB.

[ Ilustrasi ]
Berdasarkan hasil wawancara dan penilaian portofolio pada semua peserta calon peserta yang telah dilaksanakan pada tanggal 24-26 Maret 2015, telah ditetapkan bersama melalui rapat pleno penentuan calon peserta pelatihan sebanyak 40 (empat puluh) orang. Ke 40 orang tersebut kami panggil untuk mengikuti pelatihan di LPMP NTB pada tanggal 13-17 April 2015.
Bapak/Ibu yang telah ditetapkan sebagai peserta pelatihan diharapkan untuk dapat mempersiapkan diri dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Chek in tanggal 12 April 2015 di LPMP NTB paling lambat Pukul 16.00 WITA
2. Pembukaan pelatihan akan dilaksanakan pada tanggal 12 April 2015 Pukul 19.00 WITA
3. Kelengkapan yang harus dibawa peserta, sebagai berikut :
a. Surat tugas mengikuti diklat dari kepala sekolah/Kepala Dinas/Kepala Kandepag
b. Buku paket matematika, silabus, dan contoh perangkat pembelajaran
c. Laptop dan Modem
d. Contoh karya tulis atau karya lain yang dihasilkan yang terkait matematika (jika ada)
4. Transportasi, konsumsi, dan akomodasi ditanggung panitia (LPMP)
5. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
a. Dr. Gunawan, M.Pd (Manager Program. HP . 081246673311)
b. Drs. H. Arifin, M,Pd (Panitia LPMP, HP. 08175751857).
6. Surat panggilan resmi kami kirimkan langsung ke peserta dengan tembusan Kepala Dinas/Kandepag pada hari Rabu, 8 April 2015 melalui pos.
7. DAFTAR NAMA PESERTA PELATIHAN
Daftar Nama Peserta Pelatihan
8.  SCAN SURAT PANGGILAN PELATIHAN
Surat Pangilan Pelatihan
sumber : elpsa.ikipmataram.ac.id
 
Support : Creating Website | Taufiq Abu Dena | Design Website
Copyright © 2015. PROVINSI NTB - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Taufiq Abu Dena
Proudly powered by MEDIA CENTER PGRI NTB